Seiring dengan berkembangnya zaman, maka teknologi juga semakin berkembang. Dengan berkembangnya teknologi, kebanyakan pemuda – pemudi mulai melupakan atau mengabaikan kebudayaan tradisional karena kurang menarik dan dianggap kuno atau ketinggalan. Salah satunya adalah wayang, wayang adalah kumpulan cerita yang mengkisahkan antara karakter yang bersifat baik melawan karakter lain yang bersifat jahat dengan buku “Mahabarata” dan “Ramayana” sebagai sumber utama cerita [1]. Dalam cerita wayang atau pewayangan terdapat satu sosok yang cukup dikenal yaitu Gatotkaca yang memiliki kekuatan yang besar dan dapat terbang. Semasa kecil, Gatotkaca telah menjadi sesosok pahlawan yang kuat dan memiliki nama yaitu Tetuko, dimana kebanyakan orang tidak mengenal nama kecilnya ini [2].

Kinect merupakan produk teknologi keluaran Microsoft yang dapat mendeteksi gerakan dari pengguna dan digunakan sebagai input. Dengan adanya Kinect maka manusia dibuat dapat berinteraksi dengan video game menggunakan tubuh sendiri secara natural [3].

Dengan menggunakan teknologi Kinect, dimana pemain dapat berinteraksi dengan permainan dan juga dengan keinginan untuk melestarikan kebudayaan wayang maka terciptalah sebuah game “Tetuko: Childhood of Ghatotkacha” [2]. Sebuah karya yang menggunakan video game sebagai media untuk mengenalkan dan melestarikan cerita pewayangan menggunakan cara yang baru dan tidak membosankan. Pada game Tetuko terdapat 2 elemen penting yaitu Adventure dan Battle [2]. Adventure pada game Tetuko berupa interaksi pemain dengan karakter – karakter pada game yang nantinya akan membentuk sebuah cerita yang sesuai dengan cerita pewayangan masa kecil Gatotkaca. Sedangkan Battle pada Tetuko merupakan salah satu fitur dimana pemain dapat melakukan interaksi bertarung dengan karakter pada game secara langsung dengan menggunakan gerakan – gerakan bertarung.

Berdasarkan riset, melalui game Tetuko, kebanyakan pemain menjadi lebih mudah dalam memahami cerita pewayangan, sehingga pesan cerita pewayangan yang ingin disampaikan dan tersampaikan dengan baik kepada pemain [2]. Meskipun demikian, beberapa pemain juga mengutarakan bahwa kontrol untuk game menjadi lebih sulit dengan menggunakan Kinect [2], tetapi game tetap menarik dan tidak membosankan karena adanya Kinect sehingga pemain dapat melakukan berbagai macam interaksi pada game.

Dengan adanya game “Tetuko: Childhood of Ghatotkacha” dapat menjadikan sebuah contoh cara melestarikan sebuah kebudayaan melalui media – media menarik seperti video game dengan Kinect. Dengan adanya eksekusi yang tepat dan juga ide kreatif maka kebudayaan – kebudayaan lain juga dapat nantinya dapat makin dikenal dan terjaga hingga masa kedepan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] B. Nurgiyantoro, “Wayang dan Pengembangan Karakter Bangsa“, Jurnal Pendidikan Karakter, no. 1, p. 18-34, Oktober 2011

[2] A. Basuki, J. Akhmad N. H, J. N. Putra, “Designing and Building of 3D Adventure Game “Tetuko: Childhood of Ghatotkacha” Using Kinect“, EMITTER International Journal of Engineering Technology, vol. 2, no. 1, p. 17-25, Juni 2014

[3] W. Zeng, Z. Zhang, “Microsoft Kinect and Its Effect“, IEEE Multimedia, vol. 19, no. 2, p. 4-10, Februari 2012